π Artikel Ilmiah Populer
πΏ Tagging Utama Dasa Darma Ke-2: Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia
β±οΈ 4 min read β’ Terbit 2026-09-09
Cerita Muda-mudi Inspiratif Menggerakkan Kepedulian Lingkungan
SRIKANDI
SMAK DIPONEGORO BLITAR β’ ARJUNA SRIKANDI
π‘οΈ Laporan Lembar Verifikasi Kurasi 2 Pintu:
βοΈ Pintu 1: Kwarcab Kota Blitar
"Disetujui Kwarcab. Sangat sesuai dengan Dasa Darma."
ποΈ Pintu 2: Dinperpusip Kota Blitar
"Terverifikasi PUEBI rapi & catalog valid. +100 Poin diberikan."
Abstrak / Ringkasan: Artikel ini menyoroti peran krusial generasi muda dalam merespons permasalahan lingkungan yang dapat mengancam masa depan. Melalui pengalaman dua tokoh inspiratif, yakni Swietenia Puspa Lestari (Divers Clean Action/DCA) dan Mochammad Zidane Nur Adha (Green Generation Indonesia), tulisan ini membedah bagaimana gerakan pelestarian lingkungan dapat lahir dari keresahan personal dan kondisi lingkungan terdekat. Berdasarkan pemaparan dalam acara Bincang Aksi Jaga Bumi di ajang Toyota Eco Youth ke-13, terungkap bahwa aksi nyata yang berdampak besar tidak selalu membutuhkan modal finansial yang besar pada awalnya. Kunci utama dari keberhasilan dan keberlanjutan gerakan lingkungan tersebut terletak pada komitmen yang kuat, ketahanan mental menghadapi cibiran, serta kemampuan membangun jaringan kolaborasi lintas sektor. Artikel ini menyimpulkan bahwa upaya pelestarian bumi harus dimulai dari lingkungan terdekat dengan memupuk rasa keingintahuan dan keberanian untuk melakukan aksi nyata.
Nationalgeographic.co.idβPermasalahan lingkungan dan yang terjadi dewasa ini bukanlah disebabkan kerusakan yang sedang terjadi. Lingkungan yang kotor, anomali bencana alam, dan segala dampak perubahan iklim disebabkan kerusakan yang sudah ada sejak dahulu. Sementara, kerusakan hari ini, bisa berdampak pada masa depan.
Belakangan, kesadaran untuk menghentikan kerusakan alam justru berasal dari kalangananak muda. Giat yang mereka lakukan disebabkan kecemasan akan masa depan lingkungan dan kondisi sekitar.
Untuk menggiatkan aksi peduli lingkungan, bukanlah hal yang sulit. Swietenia Puspa Lestari dari Divers Clean Action danMochammad Zidane Nur Adha dari Green Generation Indonesia bisa menjadi contoh. Mereka bergerak karena keresahan lingkungan sekitar dan menjalin hubungan yang luas supaya kegiatannya tetap berkelanjutan.
Keduanya membagikan kisah inspiratifnya dalam Bincang Aksi Jaga Bumidi Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta pada Selasa, 30 April 2024. Kegiatan ini merupakan event awal dari ajang sains lingkungan Toyota Eco Youth ke-13.
Keresahan dari Lingkungan Terdekat
FokusSwietenia Puspa Lestari,yang kemudian disapa Tenia, terhadap isu lingkungan laut berawal dari masa kecilnya yang mengunjungi Kepulauan Seribu. Kecintaannya pada laut, membuat Tenia juga suka menyelam, menjumpai keindahan alam di bawah laut.
Swietenia Puspa Lestari (memegang mic) dan Mochammad Zidane Nur Adha (kedua dari kanan) menjelaskan pengalaman mereka bergiat dalam pelestarian lingkungan. Dalam pemaparan di Bincang Aksi Bumi Toyota Eco Youth ke-13, mereka memaparkan, modal terpenting dalam mengembangkan upaya pelestarian adalah komitmen, dukungan, dan menjalin relasi dengan banyak pihak. Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Swietenia Puspa Lestari (memegang mic) dan Mochammad Zidane Nur Adha (kedua dari kanan) menjelaskan pengalaman mereka bergiat dalam pelestarian lingkungan. Dalam pemaparan di Bincang Aksi Bumi Toyota Eco Youth ke-13, mereka memaparkan, modal terpenting dalam mengembangkan upaya pelestarian adalah komitmen, dukungan, dan menjalin relasi dengan banyak pihak.
Seiring perubahan waktu, Tenia melihat bahwa kawasan pesisir yang pernah ia jumpai sering kotor karena sampah. Kondisi lingkungan ini membuatnya Risau dan mulai berpikir tentang pengolahan sampah. Dia mempelajari sistem pengolahan sampah ini ketika berkuliah di Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Merasa tidak cukup hanya dengan belajar, ia mengajak beberapa kawannya untuk mendirikan komunitas Divers Clean Action (DCA) pada 2015. Kegiatan awal mereka adalah kegiatan bersih-bersih pantai.
Sementara,Mochammad Zidane Nur Adha memulai inisiatifnya mendirikan Green Generation Indonesia sejak mengenyam bangku SMP bersama teman-temannya. Organisasi awal ini punya tujuan sederhana, ingin "mewujudkan generasi peduli berbudaya lingkungan," terangnya.
Jika Tenia berasal dari keresahan lingkungan, Zidane dan rekan-rekannya bergerak karena kebiasaan positif di kota asalnya, Balikpapan. "Kalau di Balikpapan, kita lagi di motor, lalu ada orang yang buang sampah [dari motor], orang lain pasti mikir 'Wah, itu pasti bukan orang Balikpapan'. Sebuah kultur yang sudah kebangun di Balikpapan adalah hal itu," ungkap Zidane.
Baca Juga: Apa Saja Hasil Daur Ulang Sampah Alat Peraga Kampanye Pemilu 2024?
Selain itu, sekolah tempat Zidane dan rekan-rekannya di SMP Negeri 3 Balikpapan menyandang status adiwiyata. Status ini menandakan bahwa sekolah tersebut memiliki kepedulian atas keberlangsungan lingkungan hidup.
Komitmen Terhadap Lingkungan Sebagai Modal
Sekarang, DCAtelah menjadi yayasan sejak 2017, dan Green Generation Indonesia telah tersebar di penjuru Indonesia. Meski tampak besar kegiatan mereka, rupanya lembaga yang didirikan berawal dengan modal nyaris tanpa mengeluarkan uang.
"Akhirnya, kami melakukan banyak hal-hal sederhana. Enggak butuh duit, Rp 0, kita bisa lakuikan teman-teman, kami dan Green Generation," kata Zidane.
Zidane dan rekan-rekannya di Green Generation Indonesia memulai kegiatan kolektif di Balikpapan, seperti Ozon Campaign, Bring Your Tumbler, dan Save Our Monkey. Sejak itulah, mereka mulai berkenalan dengan anak-anak muda lain di Balikpapan, sampaiakhirnya menjalin hubungan ke banyak pihak dan masyarakat di daerah lainnya.
"But we did it! Dari komitmen itusih sebenarnya. Awalnya saya coba-coba tetapi ternyata kecanduan. Untungnya kecanduan [hal] positif, ya," terangnya.
Tenia di DCA pun punya pengalaman serupa. "Karena memang, modalnya niat nekat. Jadi, waktu itunyari mentor,nyaritemen,nyaridosen,nanya-nanya (belajar dari banyak orang). Dari situ akhirnya bikin yang namanya DCA," tuturnya.
"Jadi kita membuatcorrective action, terus mulai dari kita punya programcitizen sciencesampai ke pelatihan, ngasih pengembangan ke masyarakat,ngasihdana hibah,ngasih pendampingan ke Pokdarwis--Kelompok Sadar Wisata, dan juga tentunya bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan," lanjut Tenia.
Tenia menyadari bahwa menggiatkan upaya perubahan besar dalam pelestarian lingkungan butuh modal yang besar. DCA yang berawal dari komunitas menjadi yayasan, berkembang berkat menjalin relasi dengan rekan-rekan lainnya.
"Sebenarnya yang mau aku sampaikan adalah, masalah lingkungan itu memang kompleks, tetapiopportunity-nya ada," jelas Tenia.
Berkat upaya mencari jaringan ke berbagai pihak, DCA pernah mendapat kesempatan untuk menceritakan isu lingkungan laut di depan para pemimpin Asia Pasifik dan Mantan Presiden AS Barrack Obama. Dengan demikian, luasnya jaringan kerja sama yang dapat mempertahankan DCA tetap berupaya melindungi laut tetap berjalan.
Ada banyak rintangan yang dihadapi untuk mempertahankan upaya mulia melindungi alam. Zidane dan Green Generation Indonesia pernah dicibir "sok suci" atau "sok pelestari lingkungan" oleh rekan-rekan di sekolahnya. Namun, guru pembimbingnya memberikan petuah semangat yang ditanam dalam benaknya:
"Selama hal tersebut baik, lanjutkan saja. Tak perlu dengar kata orang lain! Tuhan pastikan satu kakimu di surga, jika kamu peduli lingkungan," kata guru bernama YudithHerawati yang dikutip Zidane.
Teringat pernyataan itu, Zidane berkesan: "Itu, sih, menjadi motor saya. Menjadi semangat saya dan teman-teman di Green Generation."
Tenia menerangkan, untuk menggiatkan upaya pelestarian lingkungan harus mulai dari hal terdekat dari diri sendiri. Kemudian dilanjutkan dengan motivasi menerapkan aksi nyata, seperti menanam mangrove atau merawat sampah. Terakhir, terang Tenia, agar selalu memupuk rasa keingintahuan.
"Jadi, teman-teman lihat kanan-kiri di rumah. Siapa tahu, tahun-tahun berikutnya, teman-teman bisa menjadi inovator selanjutnya," paparnya.
Belakangan, kesadaran untuk menghentikan kerusakan alam justru berasal dari kalangananak muda. Giat yang mereka lakukan disebabkan kecemasan akan masa depan lingkungan dan kondisi sekitar.
Untuk menggiatkan aksi peduli lingkungan, bukanlah hal yang sulit. Swietenia Puspa Lestari dari Divers Clean Action danMochammad Zidane Nur Adha dari Green Generation Indonesia bisa menjadi contoh. Mereka bergerak karena keresahan lingkungan sekitar dan menjalin hubungan yang luas supaya kegiatannya tetap berkelanjutan.
Keduanya membagikan kisah inspiratifnya dalam Bincang Aksi Jaga Bumidi Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta pada Selasa, 30 April 2024. Kegiatan ini merupakan event awal dari ajang sains lingkungan Toyota Eco Youth ke-13.
Keresahan dari Lingkungan Terdekat
FokusSwietenia Puspa Lestari,yang kemudian disapa Tenia, terhadap isu lingkungan laut berawal dari masa kecilnya yang mengunjungi Kepulauan Seribu. Kecintaannya pada laut, membuat Tenia juga suka menyelam, menjumpai keindahan alam di bawah laut.
Swietenia Puspa Lestari (memegang mic) dan Mochammad Zidane Nur Adha (kedua dari kanan) menjelaskan pengalaman mereka bergiat dalam pelestarian lingkungan. Dalam pemaparan di Bincang Aksi Bumi Toyota Eco Youth ke-13, mereka memaparkan, modal terpenting dalam mengembangkan upaya pelestarian adalah komitmen, dukungan, dan menjalin relasi dengan banyak pihak. Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Swietenia Puspa Lestari (memegang mic) dan Mochammad Zidane Nur Adha (kedua dari kanan) menjelaskan pengalaman mereka bergiat dalam pelestarian lingkungan. Dalam pemaparan di Bincang Aksi Bumi Toyota Eco Youth ke-13, mereka memaparkan, modal terpenting dalam mengembangkan upaya pelestarian adalah komitmen, dukungan, dan menjalin relasi dengan banyak pihak.
Seiring perubahan waktu, Tenia melihat bahwa kawasan pesisir yang pernah ia jumpai sering kotor karena sampah. Kondisi lingkungan ini membuatnya Risau dan mulai berpikir tentang pengolahan sampah. Dia mempelajari sistem pengolahan sampah ini ketika berkuliah di Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Merasa tidak cukup hanya dengan belajar, ia mengajak beberapa kawannya untuk mendirikan komunitas Divers Clean Action (DCA) pada 2015. Kegiatan awal mereka adalah kegiatan bersih-bersih pantai.
Sementara,Mochammad Zidane Nur Adha memulai inisiatifnya mendirikan Green Generation Indonesia sejak mengenyam bangku SMP bersama teman-temannya. Organisasi awal ini punya tujuan sederhana, ingin "mewujudkan generasi peduli berbudaya lingkungan," terangnya.
Jika Tenia berasal dari keresahan lingkungan, Zidane dan rekan-rekannya bergerak karena kebiasaan positif di kota asalnya, Balikpapan. "Kalau di Balikpapan, kita lagi di motor, lalu ada orang yang buang sampah [dari motor], orang lain pasti mikir 'Wah, itu pasti bukan orang Balikpapan'. Sebuah kultur yang sudah kebangun di Balikpapan adalah hal itu," ungkap Zidane.
Baca Juga: Apa Saja Hasil Daur Ulang Sampah Alat Peraga Kampanye Pemilu 2024?
Selain itu, sekolah tempat Zidane dan rekan-rekannya di SMP Negeri 3 Balikpapan menyandang status adiwiyata. Status ini menandakan bahwa sekolah tersebut memiliki kepedulian atas keberlangsungan lingkungan hidup.
Komitmen Terhadap Lingkungan Sebagai Modal
Sekarang, DCAtelah menjadi yayasan sejak 2017, dan Green Generation Indonesia telah tersebar di penjuru Indonesia. Meski tampak besar kegiatan mereka, rupanya lembaga yang didirikan berawal dengan modal nyaris tanpa mengeluarkan uang.
"Akhirnya, kami melakukan banyak hal-hal sederhana. Enggak butuh duit, Rp 0, kita bisa lakuikan teman-teman, kami dan Green Generation," kata Zidane.
Zidane dan rekan-rekannya di Green Generation Indonesia memulai kegiatan kolektif di Balikpapan, seperti Ozon Campaign, Bring Your Tumbler, dan Save Our Monkey. Sejak itulah, mereka mulai berkenalan dengan anak-anak muda lain di Balikpapan, sampaiakhirnya menjalin hubungan ke banyak pihak dan masyarakat di daerah lainnya.
"But we did it! Dari komitmen itusih sebenarnya. Awalnya saya coba-coba tetapi ternyata kecanduan. Untungnya kecanduan [hal] positif, ya," terangnya.
Tenia di DCA pun punya pengalaman serupa. "Karena memang, modalnya niat nekat. Jadi, waktu itunyari mentor,nyaritemen,nyaridosen,nanya-nanya (belajar dari banyak orang). Dari situ akhirnya bikin yang namanya DCA," tuturnya.
"Jadi kita membuatcorrective action, terus mulai dari kita punya programcitizen sciencesampai ke pelatihan, ngasih pengembangan ke masyarakat,ngasihdana hibah,ngasih pendampingan ke Pokdarwis--Kelompok Sadar Wisata, dan juga tentunya bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan," lanjut Tenia.
Tenia menyadari bahwa menggiatkan upaya perubahan besar dalam pelestarian lingkungan butuh modal yang besar. DCA yang berawal dari komunitas menjadi yayasan, berkembang berkat menjalin relasi dengan rekan-rekan lainnya.
"Sebenarnya yang mau aku sampaikan adalah, masalah lingkungan itu memang kompleks, tetapiopportunity-nya ada," jelas Tenia.
Berkat upaya mencari jaringan ke berbagai pihak, DCA pernah mendapat kesempatan untuk menceritakan isu lingkungan laut di depan para pemimpin Asia Pasifik dan Mantan Presiden AS Barrack Obama. Dengan demikian, luasnya jaringan kerja sama yang dapat mempertahankan DCA tetap berupaya melindungi laut tetap berjalan.
Ada banyak rintangan yang dihadapi untuk mempertahankan upaya mulia melindungi alam. Zidane dan Green Generation Indonesia pernah dicibir "sok suci" atau "sok pelestari lingkungan" oleh rekan-rekan di sekolahnya. Namun, guru pembimbingnya memberikan petuah semangat yang ditanam dalam benaknya:
"Selama hal tersebut baik, lanjutkan saja. Tak perlu dengar kata orang lain! Tuhan pastikan satu kakimu di surga, jika kamu peduli lingkungan," kata guru bernama YudithHerawati yang dikutip Zidane.
Teringat pernyataan itu, Zidane berkesan: "Itu, sih, menjadi motor saya. Menjadi semangat saya dan teman-teman di Green Generation."
Tenia menerangkan, untuk menggiatkan upaya pelestarian lingkungan harus mulai dari hal terdekat dari diri sendiri. Kemudian dilanjutkan dengan motivasi menerapkan aksi nyata, seperti menanam mangrove atau merawat sampah. Terakhir, terang Tenia, agar selalu memupuk rasa keingintahuan.
"Jadi, teman-teman lihat kanan-kiri di rumah. Siapa tahu, tahun-tahun berikutnya, teman-teman bisa menjadi inovator selanjutnya," paparnya.
Bagikan artikel ini untuk menyebarkan semangat Dasa Darma dan Literasi Penegak Kota Blitar!